Pages

Monday, August 16, 2010

Stage To Stage Of Film Production

On The Set film Transformers 2
Kalau diantara movie mania lagi nonton di bioskop, mungkin sebagian ada yang penasaran bagaimana proses produksi (pembuatan) film tersebut hingga bisa ditonton oleh jutaan penonton. Mungkin sebagian juga ada yang ingin tahu tentang special effect atau visual effect yang menjadi daya tarik film tersebut.

Ok guys, membuat film memang tidak mudah. Butuh perancangan yang benar-benar matang dan niat yang serius untuk membuat sebuah maha karya. Artinya, jika niat kita hanya sekedar iseng bikin film, hasil yang didapat pun hanya sekedarnya.

To the point, proses produksi film terdiri dari 5 tahap (stage) yaitu :
  1. Development. Dalam tahap ini, script atau naskah ditulis dan disusun untuk menjadi blue print dalam proses produksi nanti.
  2. Pre-Production. Yaitu tahap persiapan untuk syuting nantinya, seperti perekrut-an kru dan pemain, pemilihan lokasi syuting dan membangun set.
  3. Production. Take gambar atau syuting.
  4. Post-Production. Secara umum terdiri dari editing, sound production (terdiri dari penambahan soundtrack atau music track, sound effect, music score, dan sound mixing), penambahan visual effect dengan teknik digital atau disebut CGI (jika perlu), dan penggabungan elemen suara dengan visual.
  5. Sales and Distribution. Film diputar untuk para calon pembeli (distributor), setelah melalui persetujuan, film didistribusikan baik melalui penayangan di bioskop atau home video.

DEVELOPMENT
Dalam tahap ini, Produser film mencari atau membuat cerita yang bisa berasal dari buku, novel, cerpen, kisah nyata, komik, atau bahkan film yang sudah ada (remake). Setelah menentukan tema dan pesan yang mendasari film tersebut, produser bekerja sama dengan pembuat naskah (scriptwritter) untuk menyiapkan sinopsis. Selanjutnya, scriptwritter menuliskan screenplay (skenario), dan ini memakan waktu yang cukup lama bahkan bisa sampai bertahun-tahun demi meningkatkan kualitas cerita nantinya. Sebagai contoh, draft Avatar garapan James Cameron sudah ada sejak 1994, namun Avatar dirilis pada 2009. Lalu Inception karya Chris Nolan, dia membutuhkan waktu 9 tahun untuk menyempurnakan skenarionya. Biasanya para penulis skenario melakukan riset dalam mengerjakan tugasnya. Setelah skenario selesai, produser dan scriptwritter menunjukkan naskah dan skenario pada calon penyandang dana atau investor. Jika calon investor tertarik dan setuju untuk mendanai, maka tahap ini bisa berlanjut ke tahap pra-produksi.

PRE-PRODUCTION
Pada masa pra-produksi, dilakukan perancangan ilustrasi video sebagai blue print dengan bantuan ilustrator atau concept artist. Juga dipersiapkan anggaran dana untuk proses produksi. Selain itu, pada masa pra-produksi ini, produser juga mengangkat kru. Sebagai perbandingan, banyak film-film Hollywood mempekerjakan ratusan kru yang dibagi menjadi beberapa depatemen sesuai dengan keahlian masing-masing dan kebutuhan produksi itu sendiri. Adapun kru-kru yang diangkat adalah dibawah ini beserta tugas-tugasnya.
  1. Sutradara (Director), ini adalah posisi terpenting dalam proses produksi. Sutradara bertanggung jawab mengarahkan jalannya produksi, dari mulai storytelling, akting para pemain, bahkan sutradara dituntut kreatif dalam mengambil keputusan selama mengarahkan jalannya produksi.
  2. Assitant Director (Asisten Sutradara), bertugas mengelola jadwal syuting dan mengatur logistik saat proses produksi.
  3. Casting Director, bertugas mencari dan mengaudisi aktor atau aktris yang dibutuhkan untuk mengisi karakter sesuai naskah/skenario.
  4. Location Manager, bertugas mencari lokasi dan mengelola lokasi syuting (set). Syuting bisa dilakukan di studio agar bisa terkontrol, namun banyak juga yang dilakukan di luar studio (outdoor). Tergantung keputusan sutradara yang mengacu pada naskah/skenario.
  5. Production Manager, bertugas mengelola anggaran dana dan jadwal produksi. Selain itu mereka juga bertugas melaporkan proses produksi pada eksekutif produser atau investor.
  6. Director of Photography atau Cinematographer, ia menjadi supervisor atau mengawasi segala sesuatu yang berhubungan dengan fotografi dari film. DoP ini juga memiliki tugas untuk memilih tipe pita seluloid, lensa , framing, lighting, aspect ratio, camera movement, special effect dan frame-rate selection dengan persetujuan sutradara tentunya.
  7. Director of Audiography, atau disebut juga audiografer, sound designer atau supervising sound editor. Bertugas untuk mengawasi semua audio atau sound dalam film.
  8. Production Sound Mixer, yaitu kepala sound department selama proses produksi. Tugasnya adalah merekam, menggabungkan audio yang didapat saat syuting, dialog dan sound effect. Posisi bekerjasama dengan boom operator, sutradara, director of photography, director of audiography dan asisten sutradara.
  9. Sound Designer, bertugas untuk menciptakan konsep audio, dan bekerja sama dengan supervising video editor.
  10. Composer, bertugas untuk menciptakan musik atau backsound dalam film.
  11. Production Designer, bertugas untuk menciptakan konsep visual untuk film yang bekerja sama dengan art director.
  12. Art Director, bertugas mengelola departemen artistik yang merancang set syuting.
  13. Costume Designer, bertugas merancang dan membuat kostum untuk pemain. Kostum yang dibuat harus sesuai atau cocok dengan naskah / skenario.
  14. Make Up & Hair Designer, bekerja sama dengan costume designer untuk menciptakan penampilan pemain yang harus sesuai dengan karakter yang diperankan.
  15. Storyboard Artist, bertugas untuk menciptakan visual image agar membantu sutradara dan production designer mengkomunikasikan gagasan mereka.
  16. Choreographer, bertugas untuk menciptakan gerakan-gerakan dan dansa (untuk film musikal). Untuk film laga, biasa menggunakan fight consultant.

PRODUKSI
Dalam tahap ini, dilakukan pengambilang gambar dan suara (syuting). Kru yang direkrut pun ditambah lebih banyak, seperti property master, script supervisor, assistant director, still photographer, picture editor dan sound editor. Dari 16 posisi yang disebutkan diatas (kecuali sutradara dan asistennya) memiliki departemen masing-masing yang bekerja pada saat proses produksi. Disela-sela proses produksi, biasanya sutradara, produser dan kepala departemen berkumpul untuk melakukan review dan melaporkan hasilnya pada eksekutif produser dan kepada investor. Selain review, mereka juga berkumpul untuk mempersiapkan langkah-langkah selanjutnya.

POST-PRODUCTION
Pada tahap pasca produksi ini, dilakukan editing film, pemberian efek khusus (special effect), koreksi warna, pemberian suara atau musik latar, hingga penambahan animasi (visual effect) atau sering disebut dengan teknik CGI (Computer Generated Imagery) / Pencitraan Hasil Komputer. Setelah proses pasca produksi selesai, barulah film siap didistribusikan.

SALES AND DISTRIBUTION
Ini adalah tahap akhir, yang dimana film tersebut dirilis ke bioskop atau bisa langsung ke DVD, VCD, BLU-RAY, atau bahkan download langsung yang sudah tersedia. Film yang disebar merupakan duplikasi untuk disebarkan ke bioskop-bioskop diseluruh dunia, tapi terkadang ada juga yang disebar via tembakan ke satelit, sehingga diperlukan waktu yang bersamaan untuk menontonnya. Setelah beberapa bulan didistribusikan via bioskop, barulah dirilis versi DVD, VCD atau Blu-Ray. 


sumber : http://en.wikipedia.org dan http://elearning.amikom.ac.id/

No comments:

Post a Comment